Skip to main content

Posts

Mohon Maaf

Mohon maaf jikalau aku terlampau lalai mengurusi rasa-rasa hatimu, hatinya, hati mereka, hati kalian Hanya kata-kata tujuan hidupku ini Dari kata-kata aku bermula dari kata-katanya pun aku mati nanti Aku pahami jika kau kesepian memeluk kesendirian ditemani Malam yang juga kesepian Namun aku takkan pulang Sampai segala puisi yang aku karang mematang Sehingga aku kan menghidang bintang-bintang sebagai sarapan kita Sarapan yang kan penuh kemesraan, canda tawa, dan tentu saja cinta Maukah kau memaafkan aku jika bulir-bulir airmata milikmu itu aku permainkan dalam rima-rima bernada Sebab hanya kata-kata yang mengisi hatiku, kata-kata yang sama menghiasi hatimu Aku memberikannya kemarin malam jam sebelas Ketika kau melangkah pulang dengan malas Bukan hanya rembulan saja yang begitu manis malam ini, matamu juga Tapi senyumanmu kau sembunyikan di mana? Sedang senyumanku adalah fajar yang merindukan matahari Matahari yang sama dengan matahari yang menciptakan bias berwarn...

Jawa, Dari Mataram ke Mentaram

Kebudayaan berubah ketika seorang pangeran meninggalkan istana, melepas gelar dan mengembara di antara rakyat jelata sebagai orang jelata. Kalau misal kisah Sidharta Gautama maupun cerita Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga terlalu jauh jarak waktunya untuk diingat, kita memiliki seorang teladan yang lebih dekat dengan waktu kita hari ini. Ia adalah Ki Ageng Suryo Mentaram, putra ke 55 dari Sultan Hamengku Buwono VII. Lahir 22 Mei 1892, mulai berfilsafat 1921 lewat Perkumpulan Selasa Kliwonan di Yogya. Menanggalkan kepangeranannya pada tahun 1921, kemudian menetap di Kroyo Bringin (9 km utara Salatiga) sebagai petani (1925) sambil menjadi Penceramah Keliling. Meninggalkan istana bagi beliau almarhum berarti menjalani hidup sebagai orang merdeka di antara rakyat yang ketika itu belum merdeka, kemudian menghabiskan masa hidupnya untuk berbakti kepada kemerdekaan, kehormatan, dan kebahagiaan bangsa dan negara Indonesia. Kita katakan kebudayaan berubah dengan lelaku beli...

KISAH KITA

Kita pernah mengatakan kita lelah Namun sebenarnya kita lemah Kita pernah mengatakan kita muak Namun sebenarnya kita lunak Kita pernah mengatakan kita benci Namun sebenarnya kita saling menanti Kita pernah saling pandang Meski tak jarang juga kita saling meradang Kita pernah beradu harap Meski kita sering datang lalu lenyap Iya kita pernah melewati malam bersama Meski jarang kita seirama Kita pernah melukiskan kisah meski penuh dengan keluh kesah Tak terasa kita sudah sama-sama tua Banyak hal yang kita bingungkan bersama. Dan bagaimana mungkin kau (Tuhan) menyuruh melupkan itu semua Jika kau (Tuhan ) memberi banyak hal untuk ku ingat. 3/11/12 Purwojati tepat dini hari tadi.

Termenung

Termenung dengan membelah 1/3 Malam Membuang akan kesombongan-kesombangan keindahan Seandainya setiap saat mampu berpikir seperti ini Tentu qolbu semakin temaram dan tak diam padam Banyak hal yang sering kali terlewatkan Tentu tak juga kau Tuhan mampu mengingatkan Ataukah aku yang dungu, dan juga tuli tak mampu mendengar Semua kuserahkan pada-Mu segala pemilik alam. Purwojati 29 October 2013

PANCURAN PITU

Damai ditemani alam Ricik yang seolah nestapa Bintang yang memandang seolah menyapa Kulihat diriku begitu kecil Diluar hamparan hutan dan langit tak terbatas Aku ingin menyapa denganmu Menyatu mesra dan lebih mesra Karunia tuhan menyatu malam ini Meski ku tak lagi dengan angan Meski banyak keluh ku luapkan Aku ingin mati saja ditempat ini. Malam itu 26 Maret 2014

Untuk Manusia

Dalam gelap kau membungkus pesona Dalam malam kau sunguh bercahaya Dalam indah masih ada kata sempurna Mempesona hingga langit tak mampu bersuara Menggetarkan hingga bumi bergoncang Bergema hingga ke pintu surga Mengapa engkau belum percaya Alam raya semua tertunduk Menghormati engkau wahai manusia 30 Januari 2013

Bila Tiba Waktu Berpisah

Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang Masih kudapatkan dan kurasakan Curahan  rahmat dan berbagai ni'mat Yang kerap Kau berikan Tapi bila tiba waktu berpisah Pantaskah kumemohon diri Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku Di malah hari kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai Masih kudapatkan dan kurasakan Keramaian suasana dan ketenangan jiwa Tapi bila tiba waktu berpisah Akankah kupergi seorang diri Tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani Ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku Ketika kuisi masa-masa yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti Masih bisa kumenghibur diri Tubuhku kan bersih dan  esok kan lebih baik Tanpa sebersit keraguan Tapi bila tiba waktu berpisah Masih adakah kesempatan bagiku Tuk memb...