Skip to main content

Posts

Aku masih dibumbuhi nafsu

Aku masih dibumbuhi nafsu Nafsu bercinta Nafsu bercita Nafsu berkuasa Dan nafsu penghargaan Semua menjadi ikatan tak terpisah Sulit terlepas dari itu semua Jika bangsa arab mengenal kaum Qurais Mungkin aku ada di dalamnya Jika suku jawa mengenal Ken Arok Mungkin aku masih saudaranya Jika bangsa Prancis mengenal si hati singa ( Raja Richard) Maka mungkin aku tuannya Jika kalian benci terhadap para pendusta Maka aku adalah satu diantaranya Aku ingin kembali kepangkuanmu (Tuhan) Bermanja-manja dengan sentuhan mesra-Mu Aku ingin kembali, kembali menjadi dulu. Dkw 6 Mei 2015

Malam ini

Ada yang ganjil di malam ini Kudengar suara ayam jantan bersauran entah menandakan apa Disebelah sini ada manusia yang masih memeluk erat romantisme masa lalunya Dan di rumah ini tepat, ada seorang manusia yang entah mengapa sulit memejamkan mata  Ada butir-butir kegelisahan memeluk jiwa Ada dosa-dosa perjanjian yang nampak mata Ada kegelian yang menandakan bahwa kita masih manusia Malam ini maukah kau tidur bersamaku Memelukku mendamaikan hatiku Jiwa-jiwa yang mengelana tak tahu ada dimana Buat saja malam ini menjadi gaduh tuan Lalu bawakan aku cahaya untuk menyakini bahwa engkau begitu nyata (tuhan) Bosan dengan pertanyaan, bosan dengan kegelisahan Nampaknya aku akan menepi saja Maafkan. 19 Maret 2015

Hujan hari ini

Hujan hari ini berirama kerinduan dan kenangan Banyak hal yang akhirnya terlupakan Banyak hal yang masih saja mendekap ingatan Cinta-cinta masa lalu yang penuh kenakalan Pilihan-pilihan masa muda yang penuh perjuangan Hari ini masih sama seperti kemarin, rindu yang itu-itu juga Dunia ini masih sama seperti kemarin, perang yang itu-itu saja Indonesia ini masih sama seperti kemarin, politik yang busuk-busuk sisa Hujan hari ini membawa air yang entah dari mana Mungkin dari sebongkah es di suatu tempat di kutub utara Mungkin dari gelombang pasang samudera Hindia Mungkin dari hulu-hulu sungai yang konon katanya dari surga Mungkin juga dari air matamu, yang entah menangisi siapa Hujan hari ini menyuburkan tanda tanya Tentang Agama yang selalu dijadikan tangga kuasa Juga tentangnya yang selalu dijadikan topeng dan senjata Sedang tingkah dan laku selayaknya orang kafir saja Membunuh tanpa kenal siapa, asal berbeda paham dengannya Mencaci tanpa pedulikan muka, a...

Bebaskan

Aku berhenti sejenek Menghela nafas berirama sumbang Teringat sajak malam yg dulu akrab Bercinta memeluk erat deretan rasa Bebaskan saja Hempaskan saja Puing-puing dosa semakin nyata Mejelma memaksakan sukma menata Sudah bebaskan saja diriku Jiwa temaramkan padamkan Bila perlu matikan Atau ambil saja nyawaku Lalu tancapkan ke manusia berbudi Iya hempaskan diriku Tanggal dan tempat pembuatan lupa.

Goresan cinta untuk Miena

Ketika itu aku baru masuk di smp N 6 purwokerto, dan selang beberapa minggu ada kegiatan Jumbara PMR di desa Wlahar Wangon, dari sekolah aku mendapatkan tugas bersama pak Bambang untuk mendampingi anak-anak, karena masih tergolong baru di sekolahan itu aku cenderung masih ragu bahkan canggung dengan semuanya termasuk dengan   murid-muridku             Sampai datanglah seorang anak cantik bernama Miena, dia merupakan ketua PMR di SMP N 6 Purwokerto, sifatnya jauh lebih tenang untuk anak seusia dia, berbeda jauh dari tingkah teman-temanya, berpawai tenang, anggun dan sangat sopan kepada gurunya, acara jumbara tingkat kabupaten Banyumas kurang lebih berlangsung antara 3-4 hari sebuah waktu yang sangat cukup untuk aku lebih mengenal murid-muridku termasuk Miena, terlebih lagi Miena merupakan ketua, secara otomatis dia lebih dekat dengan aku. `           Sebagai seorang ketu...

Mohon Maaf

Mohon maaf jikalau aku terlampau lalai mengurusi rasa-rasa hatimu, hatinya, hati mereka, hati kalian Hanya kata-kata tujuan hidupku ini Dari kata-kata aku bermula dari kata-katanya pun aku mati nanti Aku pahami jika kau kesepian memeluk kesendirian ditemani Malam yang juga kesepian Namun aku takkan pulang Sampai segala puisi yang aku karang mematang Sehingga aku kan menghidang bintang-bintang sebagai sarapan kita Sarapan yang kan penuh kemesraan, canda tawa, dan tentu saja cinta Maukah kau memaafkan aku jika bulir-bulir airmata milikmu itu aku permainkan dalam rima-rima bernada Sebab hanya kata-kata yang mengisi hatiku, kata-kata yang sama menghiasi hatimu Aku memberikannya kemarin malam jam sebelas Ketika kau melangkah pulang dengan malas Bukan hanya rembulan saja yang begitu manis malam ini, matamu juga Tapi senyumanmu kau sembunyikan di mana? Sedang senyumanku adalah fajar yang merindukan matahari Matahari yang sama dengan matahari yang menciptakan bias berwarn...

Jawa, Dari Mataram ke Mentaram

Kebudayaan berubah ketika seorang pangeran meninggalkan istana, melepas gelar dan mengembara di antara rakyat jelata sebagai orang jelata. Kalau misal kisah Sidharta Gautama maupun cerita Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga terlalu jauh jarak waktunya untuk diingat, kita memiliki seorang teladan yang lebih dekat dengan waktu kita hari ini. Ia adalah Ki Ageng Suryo Mentaram, putra ke 55 dari Sultan Hamengku Buwono VII. Lahir 22 Mei 1892, mulai berfilsafat 1921 lewat Perkumpulan Selasa Kliwonan di Yogya. Menanggalkan kepangeranannya pada tahun 1921, kemudian menetap di Kroyo Bringin (9 km utara Salatiga) sebagai petani (1925) sambil menjadi Penceramah Keliling. Meninggalkan istana bagi beliau almarhum berarti menjalani hidup sebagai orang merdeka di antara rakyat yang ketika itu belum merdeka, kemudian menghabiskan masa hidupnya untuk berbakti kepada kemerdekaan, kehormatan, dan kebahagiaan bangsa dan negara Indonesia. Kita katakan kebudayaan berubah dengan lelaku beli...